Bandung, koran-samudra.com – (10/02/2021). Jika sudah berurusan dengan kantor polisi tentunya semua orang merasa enggan dan tidak mau jika tidak ada urusan seperti membuat SIM atau melaporkan informasi kehilangan, namun apa jadinya jika ada seorang siswa pelajar yang di panggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan karena ada kerusuhan yang sampai merusak fasilitas kota? Tentunya hal tersebut bukanlah sebuah prestasi melainkan suatu hal yang jelek bagi siswa tersebut.

M Alfandev (18) merupakan alumni salah satu SMK negeri di kota Bandung yang telah menceritakan kisahnya dulu pernah dibawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan karena terekam kamera pengawas CCTV saat berada di lokasi kejadian, kejadian tersebut terjadi sekitar 2 tahun yang lalu karena terjadi dugaan salah satu kelompok anak dari sekolah Alfan menyerang anak dari sekolah lain.

“Awalnya ada alumni ngumpulin anak-anak sekolah buat musyawarah sama sekolah terkait, setelah musyawarah dikumpulkan lagi di taman Lansia, banyak motor terus jalan aja, kirain mau kemana aku kan di bonceng jadi ikut aja, ternyata lewat SMA itu aku posisinya agak belakang. Pas sudah lihat kedepan ternyata kaka kelas dan anak sekolah lainnya pada ngancurin plang kaca gerbang di tendangin aku turun buat ngeberhentiin niat nyamah, tapi salah juga karena ada di tempat kejadian,” Ucapnya.

Pada saat itu Alfan kira hanya akan bermusyawarah saja jadi dia hanya ikut-ikut apa kata alumninya tersebut, karena rasa setia kawan dan keluguannya dulu sehingga memacu Alfan untuk ikut dalam musyawarah yang berujung kerusuhan tersebut.

“Sebelumnya ada penyerangan juga di sekolah, aku ada di tengah-tengah kejadian, kelompok itu bilang ada yg digebukin sama anak SMK sekolah aku. Sampai masuk ke sekolah ngancurin pot terus mau ngancurin kaca di pos satpam tapi ga peca,” Ucapnya.

Pada saat dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan Alfan menjelaskan semuanya kepada polisi dan merasa kapok telah iku-ikut alumni sekolahnya tersebut. Kejadian seperti ini dulu sering terjadi di Kota Bandung yang sampai melibatkan tawuran antar sekolah karena suatu kesalahpahaman pribadi yang dibawa ke kelompok atau perkumpulan anak-anak warung. Tapi saat ini kejadian semacam itu sudah jarang terjadi karena solidaritas anak-anak pelajar di Kota Bandung khususnya Pengurus OSIS sudah terjalin dengan baik dan sering melakukan diskusi tiap hari minggu.

“Kalo mau melakukan sesuatu harus dipikirin dulu jangan dibawa emosi, jaga-jaga juga harus pilih pertemanan mana yang baik atau yang engga, biar kejadian seperti yang aku alami sampai dibawa ke kantor polisi ngga terulang lagi, kan yang malu juga nama pribadi, orang tua sama sekolah, padahal akar dari masalahnya Cuma masalah pribadi yang di bawa ke masing-masing kelompok itu,” Ucap Alfan.***M.Riza Firdaus