A d v e r t i s i n g

   Bandung, koran samudra.com –  KETUKAN pintu membuatku harus terbangun dari pembaringan yang sangat nyaman ini. Rasanya malas saja untuk melakukan suatu hal, setelah kejadian hal yang mengejutkan di sekolahku. Teman kelasku melakukan bunuh diri. Aku beranjak pergi meninggalkan kasur menuju pintu depan. Ternyata matahari sangat terik, cahayanya menyambar masuk lewat jendela. Ketukan pintu itu kembali terdengar lantas aku bergegas untuk membukanya.

    “Paket” kata seorang lelaki sambil menyodorkan dus berbentuk kotak.

    Aneh, rasanya aku sedang tidak memesan apa pun. Sedang tidak menunggu apa-apa datang ke rumahku. “Dari siapa?” tanyaku

    “Maaf, mas, saya tidak tahu. Tolong tanda tangan di sini.”

    “Baiklah.” Setelah menandatanganinya, kurir itu langsung pergi.

    Rasa penasaran pun timbul, tergebasku membuka kotak dan isinya adalah sebuah memori telepon genggam, satu flashdisk. Aku memasukan memori ini ke dalam telepon genggamku terdapat tiga rekaman audio, aku memasang earphone lantas mendengarkannya.

    “Hai, namaku Sahda. Masih ingat kan? Kali ini aku hidup di dalam memori ini yang hanya bisa kamu dengar dan mungkin kamu rasakan juga. Aku akan mengajak kalian bagaimana aku menjalani hidup, bagaimana aku bertahan dengan perasaan-perasaan yang selama ini hidup bersamaku … ”

    Rasanya ada pukulan keras tepat mengenai dadaku, jantungku berdegup kencang. Keringat keluar membasahi tubuh, angin begitu kencang, bulu kudukku berdiri. Syahda, kenapa dia mengirimkan aku ini, lima hari yang lalu ia baru saja pergi meninggalkan kita semua. Aku kembali meneruskan mendengarkan rekaman audio yang pertama. Betapa aku merindukannya.

“ … Bermula ketika aku masuk sekolah di tahun kedua, menjadi orang asing di antara semuanya. Aku duduk di bangku paling belakang. Semakin hari aku merasa sepi di tengah perbincangan kalian yang seharusnya membuat telingaku penuh dengan obrolan di sana-sini, menjadi tidak terlihat amat sangat tidak menyenangkan. Susah rasanya untuk berbaur, tak ada teman satu pun. Hingga kamu datang mendekatiku, Daras. Kamu teman pertamaku di sekolah ini. 

    Kita menjadi teman sebangku, aku mengikuti ke mana pun kamu pergi. Kamu mengajakku ke kantin sekolah yang saat ini menjadi tempat kita berbincang, berbagi kisah dan keresahan. Kamu bercerita tentang pacarmu yang amat mengekang dan tingkahnya yang kasar. Dan aku bercerita tentang kedua orang tuaku yang terus bertengkar. “Hidup memang sial.” Ucap kebiasaan kita setelah selesai bercerita. …”

KULEPAS benda yang mengganjal di telingaku, bangkit dari tempat duduk mengambil jaket yang tergantung. Matahari tampaknya akan berpulang, dingin pun semakin terasa. 

    Aku berjalan menuju kasur, membaringkan tubuhku kemudian mendengarkanmu lagi, Sahda.

”Kita sering berebut untuk menjawab pertanyaan yang guru lemparkan, saling berebut nilai dan kita selalu berlomba untuk mendapatkan juara satu di kelas. Sampai suatu ketika kau berubah, tak lagi menjadi Daras yang kukenal. Di belakang, kau membicarakanku kepada teman-temanmu yang baru. Menudingku merebut pacarmu dan meniru semua jawabanmu ketika ujian. Panggilan guru bimbingan kelas, menanyakan semua kebenaran tentang tuduhanmu. Dia tidak percaya dengan penjelasanku, Daras, dia percaya bualanmu. 

Ketika sekolah kita mengadakan study tour, pulangnya kau melabrakku, mengurungku di dalam kamar mandi menanyai semua kejadian yang terjadi pada malam harinya. 

Waktu itu, malam begitu indah. Berendam di dalam kamar mandi menggunakan air hangat. Kubuka tirai yang menghalangi pemandangan sebuah persegi panjang menjulang ke atas dengan dipenuhi lampu-lampu. Di atas, rembulan tampak berseri gerombolan awan berdiam di sekitarnya.

Tiba-tiba pintu masuk kamar kita terbuka, kukira itu kau, Daras. Kita satu kamar dan ternyata bayangan tubuh besar melintas mengetuk pintu kamar mandi. Berdiam diri seperti patung tetap saja kukuh pacarmu masuk ke dalam bak mandi. Saat itu aku sudah bilang bahwa aku bukan Daras. “Tenang. Diamlah, sayang. Malam ini kau punyaku.” Dia berbicara dengan lembut dekat dengan telinga. Napas panasnya terasa hingga leher.

Aku lantas beranjak dari sana, menarik handuk yang tergantung di sebelah. Tetapi tarikan dia untuk aku tinggal bersamanya lebih kencang mengalahkan tenagaku. Aku meronta menolak semua perlakuannya. Semakin kencang pula genggamannya. Tangannya mulai berpindah meraba payudarahku. Aku teriak semakin kejam dia memaksaku. 

Pukulan keras mendarat di pipi, dia mencium mulai dari pipi hingga leherku. Dia memperkosaku, Daras. Sungguh saat itu setengah diriku hilang. Aku rasa itu adalah kematianku.

Setelah kejadian itu kau datang menemuiku, menuduh akulah yang mempekosa pacarmu. Bualan apa yang dia bicarakan padamu. Aku menjalani hidup dengan begitu kosong, semua kututupi dengan bersusah payah. Dianggap kotor oleh semua orang, tidak ada lagi yang bisa kupercaya untuk berbagi kisah. 

Melalui rekaman ini, semua orang akan tahu siapa yang menjadi korban. Begitulah aku hidup, aku harap hanya menjadi satu-satunya korban pacarmu itu. Daras, sungguh kau teman yang baik, jangan mudah untuk terhasut oleh bualan-bualan yang kan mendorongmu jadi seperti ini. Dan untukmu, Chand. Terima kasih sudah menemaniku di masa sulit. Kamu orang ketiga yang mendapatkan rekaman ini. Aku percaya kamu bisa mengatasi apa yang aku mau.”

AIR berlinang di sekitar mataku. Rasa panas memuncak sampai kepala. Bergegas kuambil pelindung kepala dan kunci untuk mengendarai motor, lantas melaju ke rumah pacar Daras berada.

Sesampai di sana kudobrak pintu masuk melayangkan beberapa pukulan. “Brengsek, mati kauuu!” “Dasar pemerkosaaa.” Dia tak berkutik, darah mengalir di sekitar mukanya.

Aku pergi ke rumah Sahda, meminta ampunan karena tidak berhasil menjaganya. Kuberikan flashdisk kepada ibunya agar dia bisa mendengarkan rekaman itu. 

“Bukti sudah terkumpul. Nak, kamu sudah berusaha, terima kasih sudah menemani Sahda. Besok temani ibu ke pengadilan, ya.”***Red

Dinda Aina. Lahir di Bandung 16 April 2003. Seorang pustakawan Sarang Buku Ciwidey dan anggota Kawah Sastra Ciwidey dan Prosatujuh Dapat ditemukan di sosial medianya @dindaainaaa dan dindaainawordpress.com