KORAN SAMUDRA – Bandung

Santai bersama Tjetje Hidayat Padmadinata

Great Leaders must suffer (Pemimpin besar pasti menderita). Bukan saya menghina, tapi dari apa yang saya pernah dengar H.Agus Salim dan M Natsir, yang dikenal sebagai dua tokoh pemimpin besar namun hingga akhir hayatnya mereka hidup melarat bahkan tidak memiliki tempat tinggal.

Spiritnya terasa begitu kuat saat mengatakannya, terpancar dari sorot matanya yang tajam, dialah Tjetje Hidayat Padmadinata, seorang aktivis dan politikus lintas zaman ; Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.

Hari itu tanggal 22 Juni 2020, tepat di hari ulang tahunnya yang ke 85 tahun, Tjeje melanjutkan lagi pembicaraannya dengan menggunakan bahasa sunda, “ Tah..jujur akang mah salut ka pamingpin nu ciga kitu teh. Sementara nu katingali politik teh kudu weh berkaitan wae jeung kakuasaan, tah..ari akang mah teu beuki, teu resep kanu kakuasaan teh ! Dek, neangan naon atuh silaing teh ?!(Nah, jujur akang mah salut kepada pemimpin yang seperti itu, sementara apa yang sekarang terlihat politik selalu berhubungan dengan kekuasaan. Jadi apa yang menjadi tujuan kamu itu sebenernya?!,” tegas Tjetje sambil mengacungkan telunjuknya.

 

  1. Agus Salim dan M. Natsir selisih usianya cukup jauh 25 tahun, namun mereka saling mengagumi satu sama lain. Pernah pada suatu kesempatan semasa M.Natsir menjabat sebagai ketua Jong Islamieten Bond (JIB), dia bersama para pengurus JIB menjelaskan suatu permasalahan dan berharap mendapatkan solusi dari H.Agus Salim namun H.Agus Salim tak kunjung memberikaan jawaban, hingga seseorang memberanikan diri untuk untuk menanyakannya. Dan dengan cepat H.Agus Salim menjawab, Permasalahan itu ada pada saudara-saudara, karena ini adalah persoalan generasi saudara, bukan persoalan saya. Lihat anak saya yang masih kecil, jikalau saya terus menggendong, kapan dia akan mampu berjalan ? Biarlah ia mencoba berjalan, dan jika nia terjatuh, setidaknya ia akan memperoleh pengalaman dari itu,ucap H.Agus Salim.

 

Natsir adalah sosok yang sederhana, tetapi memiliki budi pekerti yang baik. H.Agus Salim pernah berpendapat tentang M.Natsir, Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri, namun demikian dia adalah seseorang yang cakap dan penuh kejujuran..,ucap H. Agus Salim.

Kembali pada perbicangan Tjeje, Negara Indonesia itu adalah multi etnik nation, multi island country, maka sistem untuk memilih pemimpin harus disesuaikan, bukan dengan sistem sentralistik.

“ Contohnya seperti sistem di Amerika, syarat untuk menjadi Pemimpin Negara mutlak dipilih oleh rakyat termasuk pemilihan di daerah-daerah, dengan kata lain bukan hanya jumlah suara saja yang menentukan kemenangan tapi juga kemenangan di daerah dan provinsi pun ikut menentukan kemenangan. Disitulah pemimpin Sunda dapat memiliki peluang untuk ikut berperan dan memang itulah cara yang ideal,”menurutnya.

Di tengah perbincangan Tjetje pun kilas balik ke masa lalu saat pertemuannya dengan salah seorang tokoh penggerak sunda yaitu Ema Bratakusumah. Menurut Tjetje, Ema Bratakusumah pernah bercerita kepadanya bahwa ketika jaman revolusi Ema pernah berdebat dengan seseorang yang sudah dianggap sebagai guru dalam politik yaitu Dr.Setia Budi. Waktu itu Dr. Setiabudi berkata,Apabila Indonesia sudah merdeka, maka rakyat Indonesia harus berani menentukan nasibnya sendiri dengan cara mengusulkan sistem Negara Federal, sebab kalau tidak lihat saja nanti, penjajahan Belanda akan digantikan oleh penjajahan oleh bangsa sendiri.

Saat itu Ema malah menentang pendapat Dr.Setia Budi karena menurutnya hal itu terlalu berlebihan dan terkesan gila kekuasaan. Waktu pun bergulir, tahun demi tahun, dan pernyataan Dr.Setia Budi akhirnya menjadi renungan bagi Ema Bratakusumah hingga akhirnya muncullah Gerakan Pemuda Sunda yang dipimpin olehnya.

Perseteruan gagasan antara bentuk Negara Unitaris dan Federalis sempat menjadi suatu perdebatan, salah satunya Otto Iskandar Dinata dan Bung Hatta pada saat sidang BPUPKI pernah menyampaikan usul bahwa bentuk Negara adalah Negara Persatuan Republik Indonesia.

Hal ini menyiratkan bahwa pada saat itu pemahaman tentang istilah Kesatuan dan Persatuan telah menjadi suatu diskursus panjang. Hingga pada akhirnya muncullah sosok yang mampu menengahi yaitu Ryaas Rasyid, pemuda asal Gowa, Sulawesi Selatan yang mencetuskan gagasan tentang otonomi daerah.

Menurut Rasyid, sistem sentralisasi yang dipegang pemerintah pusat hanya akan membuat ketergantungan daerah kepada pemerintahan pusat sangat besar dan hal ini akan berujung pada minimnya kreativitas yang bisa dihasilkan pemerintah daerah untuk membangun daerahnya sendiri.

Di akhir perbincangan Tjeje berpesan, Saya berharap lokomotif-lokomotoif sunda dapat menjaga harga dirinya di hadapan penguasa.

* (Oo Hermawan – Wakil Pemimpin Redaksi Koran Samudra ” Cetak & Online ” )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here