Bandung, koran-samudra.com – Gunung Manglayang adalah gunung yang terletak di kawasan Bandung, untuk mendaki gunung ini terdapat 2 jalur berbeda yaitu via cibiru (batu kuda) menuju langsung puncak utama dan via jatinangor (baru bereum)melewati puncak bayangan terlebih dahulu.

Gunung yang memiliki tinggi 1818 mdpl ini masih kental dengan kesakralannya, hingga ada larangan untuk pendakian di hari senin dan kamis, menurut juru kunci gunung manglayang yaitu abah Undang, beliau mengatakan bahwa di setiap hari senin malam dan kamis malam adalah waktunya para gaib berkumpul dan gunung manglayang adalah merupakan pusat kumpul para “PEJABAT” Gaib untuk melaksanakan rapat, “unggal senin sareng kemis minangka na teu kenging aya nu ka tonggoh teh da nyaeta waktuna para keramat nu ti mana mana dongkap , gunung manglayang ieu teh janten tempat pusat na ngempel,”. Selain larangan senin kamis juga ada larangan untuk pendakian degan jumlah ganjil, dan juga harus menjaga ucapan selama di gunung ini.

Diselidik tentang larangan tersebut ternyata banyak kejadian yang di luar nalar apabila larangan tersebut di langgar seperti hal nya kesurupan, atau tersesat, ” Ku jaman ayeuna mah neng ges di wanti wanti ges di inget keun angger we sok aya nu norobos ngalanggar, enya tungtungna ka abah deui we ngubaran na mah, aya nu kasurupan aya nu nyasab aya nu uih tidieu teh teu damang , enya kitu tea lah neng da ngaranna oge tempat karamat, ” Kata pak kuncen.

Pengalaman di luar nalar pun pernah di alami di gunung manglayang ini oleh pendaki dari komunitas LABAZ DAKI saat itu pendakian di lakukan pada hari kamis di tahun 2018, berangkat kamis sore sampai ke basecamp pas magrib “saat itu kita belum tau manglayang belum tau gunung, mulai pendakian setelah magrib, di basecamp sama sekali tidak ada petugas, ya terus kami nanjak ya degan perlengkapan seadanya dan penerangan yang memang kurang, hujan terus mengguyur hingga kami memutuskan untuk camp di jalur pendakian saat itu benar-benar gak ada pendaki lain, dan memang kami gak tahu ada larangan senin kamis, kami bener capek karna kami merasa cuma berputar putar saja di tempat yang sama, posisi kami saat itu belum sampai ke puncak bayangan sama sekali,” Cerita dari Arul selaku ketua komunitas LABAZ DAKI, selain mengalami hal yang aneh yaitu berputar -putar di lokasi yang sama adapun kejadian yang cukup mencengangkan dan membuat bulu kunduk berdiri pada saat rombongan turun gunung ada salah seorang yang iseng menebas kulit pohon degan golok tanpa di duga yang keluar dari pohon itu bukanlah getah pohon atau air yang selayaknya sebuah pohon namun pohon tersebut mengeluarkan aliran darah segar “ya itu bu pas kita turun eh teman ada yang iseng nyacag pohon dari pohon itu keluar darah bu , saya marahin juga itu temen saya karna bertindak sembarangan , kan kita gak tau ya bu namanya di gunung ada apa kan teteplah harus hati-hati di jaga gitu, ”

Setibanya rombongan ini di basecamp bertemulah degan seorang kakek dan salah seorang dari mereka bercerita ke kakek tersebut bahwa di atas hujan tidak ada reda-reda nya, tanpa di duga kakek itu menjawab bahwa sudah 2 bulan tidak hujan di daerah tersebut sampai hari itu “naon jang da teu aya hujan tos 2 sasih ge,”.itulah salah satu cerita nyata dari pendakian ke gunung manglayang yang memang melanggar larangan Menilik dari legenda gunung manglayang sendiri ada situs yang memang di keramatkan yaitu situs batu kuda, yang menurut rumor beredar situs batu kuda ini dulu nya adalah kuda terbang yang di sebut kuda semprani terperosok jatuh tersungkur dan menjadi batu di wilayah gunung tersebut, nyatanya ternyata tidak seperti itu cerita yang di dapat dari pak kuncen dan beberapa warga yang bertugas menjadi crew di pos manglayang ini, bahwa legenda yang sesungguh nya adalah pemilik sang kuda sakti itu ialah kerajaan sunda ke 2 berkelana sambil berburu, pada saat berkelana ke gunung ini dirasa gunung ini sangat nyaman sehingga kuda yang jadi tunggangan di rubah menjadi batu setelah sekian lama bertapa akhirnya beliau menghilang kalau di dalam bahasa sunda di sebut “tilem” .

Di setiap senin dan kamis para peziarah datang untuk mengunjungi tempat keramat ini, karna seperti di ceritakan sebelum nya bahwa senin kamis adalah waktunya para “keramat” Berkumpul saat itulah waktu yang di nilai baik untuk berziarah.

Orang-orang dari berbagai daerah bahkan dari luar provinsi pun datang untuk berjiarah dan berharap apa yang mereka inginkan tercapai, seperti kenaikan jabatan, jodoh, rezeki, usaha dan masih banyak lagi. Untuk melaksankan ritual ini peziarah di wajibkan untuk membawa beberapa sesajen untuk kelengkapan ritual yang akan di jalankan. Adapun keunikan lain yaitu mata air yang di suguhkan untuk para peziarah yaitu rasa air tersebut akan berbeda di setiap orang yang meminumnya ” Anu ziarah teh engke di ibakan di pasian leueut cair tah cai eta teh bakal beda rasa na aya nu ngarasa pait , amis , haseum eta tergantung jalmi na,” Jelas abah undang.

Selain batu kuda yang di keramatkan ada pula beberapa batu yang lokasinya lebih tinggi yang juga di keramatkan yaitu BATU LAWANG, BATU KORSI , BATU TUMPENG dan BATU KRATON ” Seeur neng tempat nu dikeramatkeun teh ngan seer na mah tos we di batu kuda engke nu para karamat na nu di ulem ka handap, ngan aya sabaraha peziarah nu emang di kedahkeun ka tonggoh, eta mah kmh parentah ti anu di ulemna neng,” Tambah abah undang.

Untuk kata manglayang sendiri itu di ambil dari sebuah bunga yang dulu kata beliau warga desa gunung ini sukanya tidur di luar di alam terbuka suatu malam terlihat ada bunga yang terbang mengelilingi kawasan tersebut dan jatuh di pegunungan itu nah dari asal situlah gunung itu di sebut degan gunung kembang layang atau manglayang.

Petugas di gunung manglayang ini sangat berpengalaman terutama tim recue ketika ada laporan tentang permasalahan dalam pendakian seperti hypo, terjatuh dan kelelahan tim akan segera bergerak cepat menuju lokasi, “Banyaknya yang kena hypo, yang nyasar, ada beberapa pun yang jatuh cidera, kebayakan yg jatuh cidera yang lewat jalur tengah karna ini jalur nya tebing dan bisa di katakan extrim,” Jelas pak uus salah satu tim rescue gunung manglayang.

Dari pihak basecamp sendiri tidak merekomendasikan pendakian gunung lewat jalur tengah ini, kalaupun pendaki kekeh akan di brifing terlebih dahulu di basecamp “kami selalu mengarahkan para pendaki lewat jalur kiri karna dijalur itu lebih aman, namun terkadang ada saja pendaki yang kekeh mau lwt jalur tengah, ya pasti kita brifing dulu disini untuk meminimalisir kecelakaan yang mungkin akan terjadi,” Tambah pak uus.

Jalur pendakian gunung manglayang selama covid ini memang tetap di buka namun ada peraturan untuk tidak nge camp dan tetap menggunakan protokol kesehatan, setelah beberapa lama tidak di izinkan untuk ngecamp akhirnya pada tangal 10 Nov 2020 gunung manglayang membuka lagi untuk para pendaki untuk nge camp di puncak tentu degan protokol kesehatan yang tetap di jaga.
Untuk tiket masuknya sendiri yaitu Rp. 10.000 / org untuk yang mau ngecamp dan Rp. 7.000 / org untuk yang sekedar wisata atau pendakian tektok (tidak ngecamp) untuk biaya parkir Rp. 5.000. Selain kawasan nya yang asri penduduknya yang ramah manglayangpun punya ke khasannya sendiri yaitu kopi manglayang… Kopi degan citra rasa unik karna ada wangi piinus d kopinya itu di sebabkan kopi di tanam di antara pohon pinus, apabila berkunjung ke gunung manglayang jangan lupa untuk menikmati kopi nya yang di sediakan di setiap warung warung. *** (pertiwi-Reporter koransamudra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here