A d v e r t i s i n g

Subang, Koran samudra.Com – Ratusan hektar Tanaman Padi berusia muda di wilayah Kecamatan Pusakanagara terancam kekeringan dan gagal panen, akibat debit air dari saluran Tarum Timur berkurang.

Berdasarkan pantowan Koran Samudra, rabu (25/08) di lapangan, daerah yang terancam kekeringan tersebut berlokasi di wilayah Desa Pusakaratu dan wilayah Desa sekitarnya.

Petani pemilik sawah yang berada di daerah tersebut hanya mengandalkan saluran irigasi dari Tarum Timur untuk mengairi tanaman padinya. Sejak pasca jebolnya sipon pasokan air ke wilayah Pusakaratu menjadi berkurang.

Salah satu petani Desa Pusakaratu Dasli mengatakan, “kurangnya pasokan air ini bisa mengancam ke pertumbuhan padi, karena sebagian tanaman padi ini baru berumur 1,5 bulan dan ini sangat membutuhkan air agar tanaman padi bisa tumbuh dengan baik, apabila pasokan air berkurang ini akibatnya bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan padi, bisa bisa padi akan jadi kerdil dan ini mengancam petani gagal panen,” ujarnya.

Lebih lanjut Dasli mengatakan “Kalau melihat kondisi seperti sekarang ini kemungkinan besar petani tidak akan bisa panen kalau panen juga paling bisa hanya 40 % saja, itu juga harus mengeluarkan uang lebih besar, karena untuk bisa mengairi sawah petani harus nyedot air dari sumur pantek,” .

“Rata rata Petani setiap nyedot untu mengairi satu hektar sawah harus mengeluarkan uang untuk beli bahan bakar sebesar 300 ribu itu juga hasilnya tidak maksimal karena air cepat kering lagi,”  jelas Dasli.

“Para Petani di wilayah Kecamatan Pusakanagara mengharapkan agar Muspika Kecamatan Pusakanagara harus segera turun tangan membantu para petani mengatasi ancaman kekeringan agar tidak terjadi gagal panen,” pungkasnya.

Aktivis Gerakan Nusantara Hijau (GNH) Dpc Kab.Subang Mang Omod saat dihubungi Koran Samudra lewat Media Celuler. kekurangan pasokan air untuk petani di Pusakanagara sudah jelas kurang diperhatikan pihak pemerintah dalam hal ini Balai Besar Waduk&Sungai (BBWS).

“Sering kami amati Proyek Program BBWS bila memperbaiki Pekerjaan Lening atau Normalisasi/Pengerukan sering tidak maksimal atau tidak sempurna cara pengerjaanya sehingga anggaran proyek- proyeknya jadi bancakan semua pihak. Contoh kecil program P3 TGAI thn 2021 di dusun Kotasari desa Pusakaratu proyek BBWS senilai Rp.194juta sampai sekarang pihak penegak hukum tidak menindaklanjuti proses pengaduan dari beberapa warga dan Media, dana yang di sunat sebesar Rp 50jt/titik oleh pihak tertentu,” Pungkas Mang Omod.

**AHidayat**