A d v e r t i s i n g

foto by rencanamu.id

BANDUNG, koran-samudra.com –  Komplek Bumi Panyileukan, Asyifa Salwa Tandika Utami (19) Mahasiswa Jurusan Psikologi UNPAD semester 3. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatar belakanginya. Jika berbincang mengenai psikologi tentunya banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari, perilaku manusia tentunya tidak ada Batasan khusus jika kita berbicara secara teori. Karena berhubungan dengan hukum sebab-akibat setiap orang pasti berbeda dan cendrung relatif dari setiap pengalaman masing-masing individu pasti ada yang berbeda.

Belakangan ini banyak kasus yang ditemukan pada Sebagian masyarakat khususnya para kaula muda, mulai dari anak-anak SMP, SMA bahkan kuliahan sering kali terjebak suatu “permainan” di sosial media seperti sebuah survey yang mendiagnosis keadaan mental pribadi dari para penggunanya. Hasil nya bisa beragam, ada yang mengukur tingkat kejeniusan (IQ), ramalan horoskop, bahkan sampai ada yang “bisa” memutuskan apakah penggunanya introvert, ekstrovert atau ambivert. Tentunya hal tersebut bisa jadi berbahaya jika ditanggapi dengan serius oleh si pengisi survey “permainan” itu, jatuhnya adalah self diagnose.

Tentunya jika kita melihat ruang lingkup kerja seorang psikolog sangat lah luas, karena dimana ada manusia maka disitu dibutuhkan sosok seorang psikolog. Oleh karena itu banyak mahasiswa psikologi di beberapa kampus yang curhat bahwasanya jika urusan nilai di mata perkuliahan seringkali dosen matkul yang bersangkutan memberikan nilai yang “pelit” karena jika mahasiswa belum menguasai salah satu materi maka akan berpengaruh pada saat sudah bekerja nanti. Tentunya jika berhubungan dengan kejiwaan seseorang bukanlah perkara sederhana bukan?

“Susahnya belajar psikologi karena kalau aku pribadi mempelajari manusia, diri sendiri terus kadang tuh jadi memikirkan apa yang telah dilalui gitu dan menjadi sebuah distraksi yang mambuat aku jadi cukup terhambat terus kadang juga jauh dari ekspektasi aku karena jauh mendalami ini, mempelajari manusia tuh ternyata banyak banget, dari seorang manusia perilaku-perilaku yang dihasilkan pun banyak banget yang melatar belakanginya, tapi itu pun juga merupakan suatu kesenangan tersendiri sih buat aku gitu jadi bisa mengerti ke diri sendiri, terus kan karena psikologi itu mempelajari tentang manusia jadi bisa langsung keliatan gitu apa yang terjadi kepada diri sendiri ataupun di lingkungan sekitar kita tetep tidak boleh cepat mengambil keputusan atau menggunakan embel-embel psikologi karena kita masih mahasiswa bahkan yang sudah sarjana pun masih belum bisa karena belum menjadi seorang psikolog”. Ujarnya.

Oleh karena itu Salwa mengajak kita semua untuk dapat aware terhadap Kesehatan mental kita pribadi karena kesehatan mental sama pentingnya dengan Kesehatan fisik. Jangan sampai mengikuti isu-isu psikologi tanpa adanya sumber yang jelas seperti tes kepribadian karena tidak ada alat ukurnya dalam psikologi. Kalau untuk hiburan silahkan saja, tapi jika sudah ditanggapi dengan serius bahkan sudah sampai self diagnose hal tersebut lah yang berbahaya bagi diri kita, setiap orang punya pengaruh yang berbeda-beda jadi tidak bisa di sama ratakan dengan yang lain. Lebih baik mencari pertolongan ke orang terdekat atau yang lebih paham terhadap Kesehatan mental seperti seorang psikolog.****(M.Riza firdaus)